Patah Jiwa
Ketika jiwa dilanda luka yang teriris miris
Ketika Jiwa merasa sakit ragaikut meringgis
Kekalutan tiba sebagaimana kebahagiaan terselimuti lara pedih
Kekuataan yang kokoh dan kuat pudar perlahan pasti
Ya..Begitulah kondisi remuknya hati
Mendapatkan kabar goresan dalam rintih
Semesta mendukung seolah cerah alam tak Kembali
Hingar bingar keramaian seolah terhenti
Sakit…
Jerit hati yang menggigil…
Sandaran terakhir adalah diri
Bertanding melawan luka-luka yang menggerogoti
Maju melawan rintang yang menepi
Janganlah pergi menyerahkan diri dalam sayatan belati
Berlalu Lah…
Ku Hadapi dengan pasrah pada ilahi
Memberi jalan terbaik
Ratapi, hadapi namun bukan untung menenggelamkan patahan bagian lain
Biarlah kau lewati
Pergolakan batin yang mendidih ini
Ya! Jalanan perih duniawi
Yakinlah Tuhan punya misteri indah yang terencana rapi
Dibalik tragedi.
Bukankah kamu yakin?!
Ujian Cobaan menepi menebus iman hakiki.
Tersenyumlah sekalipun patah jiwa belum selesai kau obati
FSN
Pakenjeng, 31102023.
#puisi #motivasi

Jangan terlalu lama bersedih,
BalasHapusmeski luka itu belum kering.
Hati bukan benda mati,
ia bisa tumbuh kembali.
Orang yang pergi bukan akhir segalanya,
kadang kehilangan adalah cara semesta
menyelamatkanmu dari yang tak seharusnya.
Kau mungkin merasa hancur hari ini,
tapi percayalah—
esok, kau akan belajar berdiri
dengan hati yang lebih kuat dari hari ini.
Hari ini mungkin kelabu,
BalasHapustapi hidup tak hanya tentang satu warna.
Ada hari-hari cerah yang belum kamu temui,
ada tawa yang belum kamu dengar lagi dari dirimu sendiri.
Mungkin hari ini kamu merasa sendirian,
BalasHapustapi dalam sujudmu,
ada pelukan yang tak terlihat—
itu cinta-Nya, yang tak pernah meninggalkan.
Tak apa jika kau tak kuat hari ini,
BalasHapustak apa jika matamu basah karena rindu yang tak terbalas.
Kau sedang belajar,
dan belajar itu kadang menyakitkan.
Hati yang patah bukan untuk dibuang,
ia hanya sedang mencari arah pulang.
Nanti, saat luka ini tinggal kenangan,
kau akan tersenyum dan berkata:
“Terima kasih, aku tak menyerah dulu.”